Minggu, 30 Desember 2012

Fam Tour for Visit Jateng 2013


Dalam rangka menyambut Visit Jateng 2013, Dinas Budaya dan Pariwisata (DINBUDPAR) Provinsi Jawa Tengah mengajak para blogger, jurnalis, dan komunitas untuk mengikuti Familization Tour (Fam Tour) selama 3 hari mulai tanggal 14-16 Desember 2012 ke empat kota, yaitu Demak, Kudus, Jepara dan Semarang. Tujuan diselenggarakannya Fam Tour ini adalah untuk memperkenalkan tempat-tempat pariwisata yang ada di Jawa Tengah yang menjadi tujuan Visit Jateng 2013. Selain itu, dengan adanya acara ini, diharapkan para blogger, jurnalis dan komunitas bisa ikut mempromosikan pariwisata yang ada di Jawa Tengah.

Adapun rangkaian acara, yaitu hari pertama (14/12) peserta berkumpul di kantor DINBUDPAR yang terletak di jalan Pemuda 136 Semarang untuk mendapatkan pengarahan sebelum memulai perjalanan. Sekitar pukul 08.30, peserta berangkat menuju Masjid Demak, kemudian berkunjung ke makam Sunan Kalijaga dan dilanjutkan perjalanan menuju kota Kudus, untuk berkunjung ke Masjid Menara Kudus dan makam Sunan Kudus. Selain berkunjung ke Masjid Menara Kudus dan makam Sunan Kudus, para peserta juga mengunjungi museum Kretek Kudus.

Berbeda dengan hari pertama yang bertemakan wisata religi, di hari kedua (15/12) peserta menikmati wisata bahari di kota Jepara. Peserta berkunjung ke pantai Bandengan, pulau Panjang dan pantai Kartini. Tak puas dengan wisata bahari, peserta pun diajak untuk mengetahui sejarah perjalanan hidup R.A Kartini di Pendhopo Kabupaten Jepara dan Museum Kartini. Setelah mengetahui perjalanan hidup R.A Kartini peserta melanjutkan perjalanan menuju wilayah Troso, dimana di wilayah tersebut banyak ditemui perajin tenun, yang merupakan salah satu oleh-oleh dati kota Jepara yang sangat diminati oleh para wisatawan.

Hari ketiga (16/12), peserta sudah kembali ke kota Semarang, di mana di hari itu peserta diajak berkeliling kota Semarang dan menikmati tempat-tempat wisata yang ada di sana, sebut saja Klenteng Sam Poo Kong, Vihara Buddagaya, Masjid Agung Jawa Tengah, Kota Lama dan Lawang Sewu.






Jumat, 28 Desember 2012

Musim Liburan, Tembalang Ibarat "Kota Mati"


Semarang (28/12) - Adanya minggu tenang bagi mahasiswa dan libur hari Natal disertai cuti bersama, menyebabkan kawasan Ngesrep-Tembalang terlihat lengang. Kawasan yang biasanya dipadati oleh para pelajar, pekerja dan pelaku bisnis ini, terlihat sepi ibarat "kota mati".

Sepinya kawasan Tembalang dikeluhkan oleh para supir angkutan umum. Mereka yang biasanya mampu menghasilkan uang kurang lebih Rp 100.000,00 sampai Rp 120.000,00 per harinya, kini hanya mampu memperoleh uang sebesar Rp 50.000,00 sampai Rp 60.000,00 per harinya.

Angkutan umum berhenti di kawasan Ngesrep
"Wah, kalau libur kuliah dan sekolah gini ya sepi. Bisanya hanya nutup uang setoran sama uang bensin", kata Rubi salah satu supir angkot.

Ngadiran menambahkan, sepinya kawasan Tembalang membuat supir angkutan umum menjadi malas bekerja. Biasanya angkutan yang membawa penumpang dengan jalur Ngesrep, Kampus Undip dan Banjarsari ini, beroperasi sejak pagi. Namun, karena sepinya penumpang, banyak supir angkutan umum yang memilih beroperasi antara siang sampai sore hari. Pemilik mobil angkutan pun tidak menjadikan ini sebagai masalah, karena mereka sudah paham mengenai hari-hari tertentu yang menyebabkan angkutan sepi penumpang.

Pak Ngadiran, salah satu supir angkutan umum
Diprediksikan suasana kawasan Tembalang akan normal kembali setelah tahun baru, yaitu tanggal 2 Januari 2013 di mana aktivitas para mahasiswa sudah kembali seperti biasa.


Seluruh gambar diambil pada, Jum'at, 28 Desember 2012, kawasan Ngesrep, Semarang, oleh Farisa Dian Utami.

Minggu, 16 Desember 2012

Wow! Ada Perang di Kota Lama


Sore itu kawasan Kota Lama Semarang terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa warga terlihat berkumpul  di sekitar pinggir sungai Mberok. Mereka seperti sedang mengamati sesuatu.

Dari jauh terdengar beberapa kali letupan peluru dan nampak asap hitam membumbung tinggi, membuat warga yang lain bergegas menuju tempat asal dari suara tersebut. Setelah diamati, ada beberapa orang berpakaian khas tentara Jepang dan pejuang Indonesia, tengah berlari-lari sambil menenteng senapan. Mereka seperti sedang berperang.

Di tengah situasi yang terasa genting itu, seorang pemuda terkulai lemas, bercucuran darah, karena terluka. Dia berkali-kali berteriak “Allahu Akbar!” . Seketika pemuda itu dikerumuni oleh orang-orang yang nampaknya adalah sahabat dari pemuda tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara “Cut!”  dan banyak orang mulai bertepuk tangan.

Ya, saat itu, kawasan Kota Lama tengah dijadikan lokasi syuting untuk film produksi Rapi Film yang berjudul Sang Kyai.
Menurut penuturan salah satu crew, film ini bercerita tentang perjuangan santri-santri melawan penjajah. Dan untuk Kota Lama sendiri sudah dijadikan lokasi syuting selama dua minggu. Lokasi syuting lainnya ada di Madiun dan di Ambarawa.

Selain tertarik dengan proses syuting film Sang Kyai, warga sekitar ternyata juga tertarik dengan keberadaan mobil-mobil antik yang digunakan sebagai alat transportasi dalam film. Ketika syuting break,  banyak warga yang mengambil kesempatan untuk berfoto dengan mobil-mobil antik tersebut.

Suasana syuting film Sang Kyai di kawasan Kota Lama

Para pejuang tengah mendengarkan arah dari crew film    


Warga sekitar melihat proses persiapan pengambilan gambar


Mobil antik salah satu yang menarik perhatian para warga sekitar



 foto diambil pada Sabtu, 8 Desember 2012, kawasan Kota Lama oleh Farisa Dian Utami




Duh, Pasar Johar Kumuh!


Semarang - Jika Anda sering berkunjung ke pasar Johar sekitar 2 bulan ini, tentunya Anda sudah tidak kaget terhadap pembangunan yang ada di pasar Johar. Ya, di sekitar pasar Johar saat ini tengah ada perbaikan jalan dan pembangunan saluran air.

Suasana pembangunan saluran air di pasar Johar



Memang, pasar Johar yang merupakan pasar terbesar seJateng ini, sudah terkenal dengan banjir yang kerap terjadi di musim penghujan. Hal tersebut tentunya dapat mengganggu dan menghambat proses jual beli antara pedagang dan pembeli serta mampu menimbulkan rasa keengganan dari para pengunjung yang ingin berbelanja di pasar Johar.

Adanya pembangunan saluran air, tentunya membawa dampak positif  bagi pasar Johar. Diharapkan dengan adanya pembangunan ini, kedepannya pasar Johar tidak lagi tergenang banjir, sehingga transaksi antara pedagang dan pembeli tidak lagi terganggu dan semakin banyak orang yang mau berkunjung ke pasar Johar.

Namun, untuk sisi negatif dari pembangunan saluran air ini adalah, pasar Johar terlihat semakin kumuh karena pengerjaan proyek dilakukan di saat musim penghujan, dimana jalur untuk pejalan kaki menjadi becek dan dipenuhi lumpur. Selain itu, di sekitar proyek dapat dijumpai sampah-sampah yang berserakan dan penempatan tempat sampah yang kurang sesuai.

Seorang perempuan melewati area proyek yang dikelilingi sampah.


Penempatan tempat sampah yang kurang tepat, menyebabkan pasar Johar terlihat semakin kumuh.


Selain kesan kumuh, kesan semrawut juga terasa di sekitar jalan menuju pasar Johar. Kurangnya informasi mengenai adanya pengerjaan saluran air, menyebabkan para pengendara terjebak dan harus memutar arah untuk menghindari pasar Johar. Juga adanya penutupan jalan di sekitar proyek, justru dimanfaatkan untuk parkir liar yang membuat pasar Johar menjadi semakin semrawut.

Informasi hanya berupa tulisan tangan dan kurang menarik perhatian.


Kesemrawutan di Pasar Johar




Seluruh gambar diambil pada 8 Desember 2012, pasar Johar, Semarang oleh Farisa Dian Utami